Lagu yang dipopulerkan oleh White Lion pada tahun 1989 ini menyoroti pentingnya perdamaian, cinta, dan tanggung jawab kita terhadap anak-anak yang merupakan masa depan dunia.
Lagu ini menekankan bahwa anak-anak sering kali menjadi korban ketidakadilan sosial dan konflik, dan mereka memerlukan lingkungan yang penuh perhatian dan cinta.
Lirik lagunya juga menggambarkan harapan bahwa suatu hari nanti, dunia akan berubah menjadi tempat yang lebih baik, ramah, dan aman bagi anak-anak.
Lebih dari tiga dekade setelah dirilis, pesan lagu ini masih sangat relevan. “When the Children Cry” bukan hanya lagu, tetapi sebuah seruan moral
Banyak anak di dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan seperti:
Perang dan Konflik
Anak-anak di zona konflik, seperti di Gaza atau Ukraina, masih mengalami trauma fisik dan psikologis.
Pendidikan Terbatas
Jutaan anak, terutama di negara berkembang, tidak memiliki akses ke pendidikan layak.
Eksploitasi dan Kemiskinan
Masih banyak anak yang menjadi korban kerja paksa atau perdagangan manusia.
Lagu ini mengingatkan kita untuk beraksi sebagai bentuk tanggung jawab bersama terhadap penderitaan anak-anak, melakukan investasi dalam pendidikan, perlindungan hak anak, dan menciptakan dunia yang damai.
Berikut ini lirik dan terjemah lagu When The Children Cry | White Lion
Little child
Nak
dry you cryin eyes
Usap air matamu
How can I explain the fear you feel inside?
Bagaimana bisa kujelaskan rasa takut yang kamu rasakan?
‘Cause you were born into this evil world
Karna kamu dilahirkan ke dunia yang kejam ini
Where man is killin’ man but no one knows just why
Dimana manusia membunuh sesamanya tanpa ada yang tahu sebabnya
What have we become
Kita telah jadi apa
just look what we have done
Lihat saja pada apa yang telah kita lakukan
All that we destroyed you must build again
Semua yang kami rusak harus kamu bangun lagi
When the children cry
Saat anak-anak menangis
let them know we tried
Beritahu mereka kita telah berusaha
‘Cause when the children sing
Karena saat anak-anak bernyanyi
then the new world begins
maka dunia yang barupun dimulai
Little child
Nak
you must show the way
Kamu harus tunjukkan jalan
To a better day for all the young
Menuju hari yang lebih baik bagi generasi penerusmu
‘Cause you were born for the world to see
Karena kamu dilahirkan agar dunia melihat
That we all can live with love and peace
Bahwa kita semua bisa hidup dengan cinta dan kedamaian
No more presidents and all the wars will end
Tak ada lagi presiden dan semua perangpun akan berakhir
One united world under God
Satu dunia yang bersatu dalam naungan Tuhan
When the children cry
Saat anak-anak menangis
let them know we tried
Beritahu mereka kita telah berusaha
‘Cause when the the children sing
Karena saat anak-anak bernyanyi
then the new world begins
maka dunia yang barupun dimulai
What have we become
Kita telah jadi apa
just look what we have done
Lihat saja pada apa yang telah kita lakukan
All that we destroyed you must build again
Semua yang kami rusak harus kamu bangun lagi
No more presidents and all the wars will end
Tak ada lagi presiden dan semua perangpun akan berakhir
“Iris” adalah salah satu lagu paling ikonik dari band rock Amerika, Goo Goo Dolls. Dirilis pada tahun 1998, lagu ini menjadi hits besar dan terus dikenang hingga sekarang. Lagu ini dikenal karena melodi yang indah, lirik yang emosional, dan penampilan vokal yang penuh perasaan dari John Rzeznik, vokalis utama band.
“Iris” ditulis khusus untuk soundtrack film “City of Angels” yang dibintangi oleh Nicolas Cage dan Meg Ryan. Film ini bercerita tentang seorang malaikat yang jatuh cinta pada seorang manusia. John Rzeznik terinspirasi oleh cerita film ini dan menulis lirik lagu yang menggambarkan perasaan cinta yang mendalam dan kerinduan yang dialami oleh karakter utama. John Rzeznik mengalami masa sulit dalam karir musiknya saat menulis “Iris”. Ia mengungkapkan bahwa ia mengalami “writer’s block” atau kebuntuan kreatif. Namun, setelah menonton “City of Angels”, inspirasi untuk menulis lirik lagu ini datang dengan sendirinya. Lagu ini kemudian menjadi salah satu karya terbaiknya.
“Iris” terkenal dengan suara gitar yang unik, yang diperoleh dengan menyetel ulang gitar ke “open tuning”. Rzeznik menggunakan tuning D-D-D-D-D-D, yang memberinya suara khas dan membedakan lagu ini dari lagu-lagu lainnya. Penggunaan tuning ini memberikan nuansa melankolis dan emosional yang memperkuat lirik lagu. “Iris” mencapai sukses besar di berbagai tangga lagu internasional. Lagu ini menduduki peringkat pertama di chart Billboard Modern Rock Tracks selama 18 minggu berturut-turut dan tetap berada di chart Billboard Hot 100 selama hampir satu tahun. Keberhasilan ini membantu Goo Goo Dolls meraih popularitas global.
Lagu ini mendapat banyak pengakuan dan penghargaan. “Iris” dinominasikan untuk Grammy Awards dalam kategori “Record of the Year” dan “Best Pop Performance by a Duo or Group with Vocal” pada tahun 1999. Meskipun tidak memenangkan Grammy, lagu ini tetap menjadi salah satu yang paling dikenang dan dihargai dalam sejarah musik rock. Lirik “Iris” menggambarkan perasaan cinta yang intens dan kerinduan untuk diterima apa adanya. Beberapa baris lirik seperti “And I’d give up forever to touch you” dan “I just want you to know who I am” mencerminkan kerinduan yang mendalam dan keinginan untuk mendekatkan diri dengan orang yang dicintai.
“Iris” adalah lagu yang tidak hanya sukses secara komersial tetapi juga memiliki dampak emosional yang kuat pada pendengarnya. Dengan lirik yang mendalam, melodi yang indah, dan inspirasi dari film yang menyentuh hati, lagu ini terus menjadi favorit di kalangan penggemar musik. Goo Goo Dolls berhasil menciptakan karya yang abadi dan terus dikenang dalam sejarah musik rock. (LPU Aldi)
Film serial dokumenter Thank You, Goodnight: The Bon Jovi Story akan tayang perdana di layanan streaming Disney+ dan Hulu pada Jum’at, 26 April 2024.
Anggota grupband Bon Jovi (dari kiri) David Bryan, Jon Bon Jovi, Richie Sambora and Tico Torres menghadiri pemutaran film dokumenter “Bon Jovi: When We Were Beautiful” di New York (22/10).
Jakarta – Rocker Bon Jovi mengungkap 40 tahun bermusik mereka dalam serial dokumenter baru Thank You, Goodnight: The Bon Jovi Story. Serial ini akan tayang perdana di layanan streaming Disney+ dan Hulu pada Jum’at, 26 April 2024.
Dalam episode empat bagian tersebut, cuplikan arsip serta video dan foto pribadi saling terkait dengan wawancara masa kini dan adegan grup tersebut memulai tur tahun 2022 mereka.
Ini mendokumentasikan kebangkitan band Amerika di awal 1980-an dan kurva pembelajaran tajam yang mereka hadapi saat berkembang dari bermain di klub Jersey Shore hingga stadion di seluruh dunia.
“Kami tak ingin membuat karya yang sia-sia di sini. Ini merupakan perjalanan yang luar biasa. Dalam karier sejati apa pun, terutama jika Anda berbicara tentang 40 tahun, akan ada puncak dan lembahnya. Dan kami ingin melakukannya jujurlah tentang hal itu,” kata pentolan supergrup, Jon Bon Jovi, dikutip dari Reuters, Rabu, 17 April 2024.
Perjalanan band rock Bon Jovi
Dikutip dari Medium, Bon Jovi, band rock Amerika yang didirikan pada 1983 di Sayreville, New Jersey. Band ini awalnya terdiri dari vokalis utama Jon Bon Jovi, gitaris Richie Sambora, kibordis David Bryan, bassis Alec John Such, dan drummer Tico Torres.
Perjalanan puncak kejayaan band ini terjadi selama akhir tahun 1980-an hingga 1990-an, periode di mana mereka merilis beberapa album yang mendefinisikan karier mereka dan mengukir sejarah musik.
Bon Jovi mulai mendapatkan perhatian dengan album debut self-titled mereka yang dirilis pada 1984, namun keberhasilan besar pertama mereka datang dengan rilis album kedua mereka, “7800° Fahrenheit” pada 1985. Meski album ini menunjukkan potensi band, itu belum cukup untuk mendorong mereka ke dalam stratosfer rock ‘n’ roll.
Dikutip dari LiveAbout, keberhasilan fenomenal Bon Jovi dimulai dengan rilis album “Slippery When Wet” pada 1986. Menampilkan single hit seperti Livin’ on a Prayer, You Give Love a Bad Name. Dan Wanted Dead or Alive, album ini menduduki puncak tangga lagu di seluruh dunia dan mengukuhkan status Bon Jovi sebagai ikon rock. Album-album berikutnya, termasuk “New Jersey” (1988) dan “Keep the Faith” (1992), semakin mengukuhkan tempatnya dalam sejarah musik dunia.
Menghadapi perubahan pasar musik dan selera pendengar, Bon Jovi berhasil melakukan reinvensi diri dengan album “Crush” (2000), yang melahirkan hit besar It’s My Life.
Sepanjang karier band yang termasyhur, Bon Jovi telah menjual lebih dari 130 juta rekaman di seluruh dunia. Ini menjadikan mereka salah satu band terlaris sepanjang masa. Ada banyak penghargaan yang telah diterima Bon Jovi, termasuk Grammy Awards, American Music Awards, dan masuk dalam Rock and Roll Hall of Fame pada 2018.
Meskipun ada perubahan lineup dan tren musik yang berkembang, Bon Jovi terus melakukan tur dan merekam musik baru, menginspirasi penonton dengan semangat, ketangguhan, dan semangat rock ‘n’ roll mereka yang tak lekang oleh waktu. Bahkan mereka akan mengeluarkan album studio ke-16 mereka bertajuk “Forever”. Album ini akan dirilis pada Juni 2024.
Absolutmetal.com – Biografi Band Queen. Mereka dikenal sebagai band atau grup musik paling dikenal di dunia. Beberapa lagunya seperti Bohemian Rhapsody, We Are The Champions, serta We Will Rock You paling sering dinyanyikan dan diperdengarkan.
Kisah Band ini bahkan diangkat menjadi sebuah film yang berjudul Bohemian Rhapsody yang menceritakan kisah dari para personilnya yakni Freddie Mercury, Brian May, Ben Hardy serta John Deacon. Berikut biografi Band Queen dan kisah perjalanan band asal London menjadi salah satu band paling melegenda di dunia.
Awal mula Queen muncul di tahun 1968 saat dua orang pelajar London’s Imperial College Brian May dan Tim Staffell ingin ngeband.
Mereka lantas mengiklankan di papan pengumuman sekolah, bahwa sedang mencari drummer dengan style seperti Ginger Baker. Iklan ini menarik perhatian pemuda bernama Roger Meddows Taylor untuk ikut audisi dan berhasil lolos. Group ini kemudian diberi nama SMILE.
Bergabungnya Freddie Mercury
Tahun 1970 SMILE ditinggal pergi Tim Staffel dan bergabung dengan group “Humpy Bong”. Frederick Bulsara teman kuliah Tim Staffel di Ealing College of Art lantas bergabung, inilah cerita tentang Queen bermula. Frederick Bulsara mengganti namanya menjadi Freddie Mercury, dan nama band dirubah menjadi QUEEN.
Queen adalah kelompok musik rock dari Britania Raya yang berjaya di tahun 70-an sampai 90-an. Bahkan sampai sekarang mereka masih terkenal, terutama karena lagu-lagunya yang sering diputar seperti “We Are the Champions”, “Bohemian Rhapsody” dan “We Will Rock You”.
Mereka sejak awal sampai akhir tidak pernah mengalami pergantian personel, dengan empat anggota John Deacon, Brian May, Freddie Mercury dan Roger Taylor.
Untuk pemain bass Queen menggunakan pemain bass cabutan sampai saat John Deacon pada bulan Pebruary tahun 1971 resmi menjadi anggota ke 4 Queen.
Dari Pentas Kecil Menuju Panggung Dunia
Band ini manggung tanpa lelah di pentas kecil untuk teman-teman dekat mereka, sampai mereka dapat kesempatan untuk mencoba studio rekaman baru yang bernama “De Lane Lea”.
Disini Queen merekam demo tapes dan menandatangani kontrak dengan Trident di tahun 1972, dan dibayar sebesar £60 per minggu.
Queen memulai bekerja mempersiapkan album pertama mereka yang direkam dibawah pengawasan Roy Thomas Baker dan John Anthony (staff enginer di Trident Studios)
Pada tahun 1973 Trident dan EMI menandatangani kontrak rekaman dengan Queen, dan pada bulan Juli 1973 mereka merilis album pertama dengan titel Queen dengan corak musik yang menggabungkan unsur hard rock dengan harmoni vokal ala opera.
Album dengan cover warna suram ini selama 17 minggu bertengger ditangga album mencapai no 24. Peluncuran album ini diiringi tour Inggris, mereka menjadi band pembuka “Mott The Hoople”, yang dimulai di Town Halls, kota Leeds pada 12 November 1973.
Banyak orang menilai aksi mereka lebih dari sekedar band pembuka, sehingga menghasilkan para pengikut awal Queen. Penggarapan album ketiga berlangsung dari bulan Juli 1974 sampai dengan November 1974.
Berbeda dengan sebelumnya, dimana dimulai tanpa keterlibatan Brian May, dan sedikitnya bantuan dari Roy Thomas Baker. Setelah Brian May merasakan kondisi yang lebih baik, barulah dia datang ke studio untuk mengisi bagian gitar meskipun sebenarnya masih belum pulih seratus persen.
Pada 11 Oktober 1974 single “Killer Queen”/”Flick Of The Wrist’” dirilis dan menjadi hits dimana selama 11 minggu bertengger di tangga ke 2.
Lagu Killer Queen menurut Brian May merupakan suatu lagu yang terbaik yang menjadi titik balik kesuksesan dari Queen. Lagu ini bercerita tentang gadis panggilan kelas atas yang dalam tafsiran Freddie Mercury bahwa orang kalangan kelas atas pun bisa menjadi PSK juga.
Akhirnya album ketiga ini dapat diselesaikan dan dirilis pada tanggal 1 bulan November 1974 di Empire, Liverpool dengan titel SHEER HEART ATTACK yang memuat 13 track.
Pada 9 Januari 1975 diluncurkan single yang diambil dari album Sheer Heart Attack, yaitu “Now I’m Here”/”Lily of the Valey” (buat gue lagu Now I’m Here paling berkesan adalah versi yang di dobel album Live Killers).
Tahun 1975 di bulan Februari 1975 dengan dukungan penuh dari label Elektra, Queen melakukan invasi ke Amerika sebagai headliner yang dimulai dari Agora, Columbus Ohio pada tanggal 5 Pebruari 1975.
Band Queen Sukses Besar
Meskipun dihujani kritik yang membandingkan mereka dengan led Zeppelin, namun penjualan tiket mereka sangat mengesankan dan selalu sold out. Sehingga beberapa pertunjukan terpaksa dilakukan 2 kali pada venue yang sama.
Ditengah kesuksesan itu, lagi-lagi masalah medis mendera Queen. Kali ini Freddie Mercury diserang Radang Tenggorokan pada bulan April 1975, dan kondisinya cukup serius sehingga terpaksa membatalkan 7 jadwal dari rangkaian USA tour ini dan Queen memutuskan berlibur selama 10 hari di Hawaii, sebelum mereka meluncur ke Jepang (negeri yang membuat Queen tergila-gila).
Tour Jepang diawali pada 19 April di Budokan, Tokyo dan disambung dengan kota-kota Nagoya, Kobe, Fukuoka, Okayama, Shizuoka, Yokohama dan kembali lagi ke Tokyo di Budokan.
Ketika mereka pertama kali mendarat di bandara Jepang disambut oleh ribuan pengemar mereka. Pada saat yang sama Sheer Heart Attack memuncaki chart di Jepang.
Meninggalnya Freddie Mercury
Queen sempat vakum di awal 1990-an ketika Freddie Mercury meninggal dunia karena AIDS. Meskipun begitu, mereka masih sempat mengeluarkan album baru, yaitu Made In Heaven pada 1995 dengan menggunakan suara Mercury yang direkam sebelumnya.
Mereka juga sempat mengeluarkan singel baru, No-One But You (Only The Good Die Young) pada 1998. Di singel ini, gitaris Brian May merangkap sebagai vokalis karena Queen belum mendapatkan vokalis tetap.
Sebelumnya, Queen sempat mengadakan proyek Queen + Proyek ini adalah proyek di mana Queen berkolaborasi dengan artis-artis lainnya seperti George Michael, Elton John, Luciano Pavarotti, dan sebagainya. Queen + sudah terlihat sejak diadakannya Freddie Mercury Tribute Concert untuk mengenang Freddie Mercury pada 1992.
Hanya saja, Queen + cuma menyanyikan lagu-lagu lama mereka yang menjadi hits, seperti Somebody to Love, Too Much Love Will Kill You, dan sebagainya. Setelah rilis singel No-One But You (Only The Good Die Young), basis John Deacon memutuskan untuk mengakhiri kebersamaannya dengan Queen. Pada 2004, Queen menemukan vokalis baru, yaitu Paul Rodgers. Mereka sempat mengadakan show di Hyde Park, Sheffield, Inggris.
Malanghits.com, Membahas musik heavy metal yang awal mulanya mulai digaungkan di Inggris maka kita tak akan jauh-jauh menyinggung Black Sabbath, Led Zeppelin maupun Iron Maiden. Tapi grup band yang sampai sekarang ini masih eksis dalam belantika musik metal adalah Iron Maiden. Iron Maiden adalah band heavy metal asal London timur , Inggris , dibentuk pada tahun 1975 oleh bassis Steve Harris , mantan anggota Gypsy’s Kiss and Smiler.
Mereka adalah salah satu band paling sukses dan berpengaruh dalam genre heavy metal , telah menjual lebih dari 100 juta album di seluruh dunia. Karya Iron Maiden telah menginspirasi sub-genre musik heavy metal lainnya, termasuk power metal dan speed metal. Mereka disebut-sebut sebagai pengaruh besar (antara lain) band thrash metal Slayer , band pop-punk Sum 41 dan band jam Umphrey’s McGee .
Maskot band , Eddie , adalah perlengkapan abadi dalam seni sampul album yang dipengaruhi horor, serta dalam pertunjukan live. Eddie juga tampil dalam video game first-person shooter , Ed Hunter. Iron Maiden sejauh ini telah merilis 13 album studio, 2 kompilasi ‘terbaik’ dan 5 album live. Dengan serangkaian penampilan festival yang diselenggarakan pada tahun 2005 , mereka belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Iron Maiden baru-baru ini meluncurkan sebuah game di iOs yang bernama Iron Maiden: Legacy of the Beast.
Salah satu punggawa pencetus grup band ini adalah Steve Harris sang basist pada tahun 1975 di Leyton, London Timur. Awalnya Steve Harris mengajak teman-temannya yaitu Tonny Parsons untuk mengisi posisi gitar, Doug Sampson pada drum dan sang vokalis Paul Di’Anno di grup sebelum Adrian Smith dan Bruce Dickinson bergabung pada pertengahan 80-an. Nama Iron Maiden sendiri awalnya adalah tatkala Steve Harris melihat sebuah film yang berjudul “The Man in the Iron Mask”.
Dimana dalam film itu memperlihatkan adegan seseorang yang sedang dimasukan kedalam sebuah peti besi yang diluarnya ditusuk-tusuk oleh batang besi, yang dari sanalah nama Iron Maiden mulai muncul. Yang dimana nama Iron Maiden adalah sebagai nama salah satu band yang terkenal dan masih berpengaruh hingga sekarang. Iron Maiden dibentuk pada Mei 1975 oleh bassis Steve Harris , yang bergabung dengan gitaris Dave Murray beberapa bulan kemudian. Tiga puluh tahun kemudian, keduanya tetap memimpin Iron Maiden.
Harris dan Murray melewati banyak sekali anggota band sepanjang tahun 1970an , membayar iuran mereka di sirkuit klub yang sebagian besar beraliran punk di lingkungan East End yang keras di London . Meskipun Maiden adalah band metal yang dipengaruhi oleh Deep Purple , Yes , Wishbone Ash , dan Black Sabbath , mereka memiliki gaya punk yang cepat di masa-masa awal. Penyanyi asli Paul Day jauh lebih punkier daripada penggantinya, Dennis Wilcock yang aneh , penggemar berat Kiss yang menggunakan api, riasan, dan darah palsu di atas panggung. Pada tahun 1978, Harris dan Murray telah memantapkan formasi Iron Maiden dengan penambahan drummer Doug Sampson dan vokalis Paul Di’Anno . Jika sebelumnya band ini bernuansa punk, mereka melakukannya lebih lagi dengan kedatangan Di’Anno yang berambut pendek dan berapi-api.
Selama bertahun-tahun, band ini telah ditekan oleh label rekaman untuk memotong rambut mereka dan mengorbankan suara metal kompleks mereka demi citra yang lebih punk. Tetapi dengan Di’Anno di garis depan, band ini dapat menggabungkan keduanya menjadi sebuah lagu klasik yang manjur. tema, ritme metal yang kencang, dan riff hardcore yang cepat. Iron Maiden menjadi sensasi di dunia rock Inggris pada tahun 1978. Band ini telah bermain selama tiga tahun dan memperoleh pengikut setia yang luar biasa, namun belum pernah merekam musik mereka.
Pada Malam Tahun Baru 1978, band ini merekam salah satu demo paling terkenal dalam sejarah rock, Soundhouse Tapes. Menampilkan hanya empat lagu, band ini langsung terjual sebanyak 500 eksemplar, dan tidak mencetak ulang demonya lagi hingga tahun 1996 (salinan asli terjual ribuan dolar). Dua lagu di demo, ‘Prowler’ dan ‘Iron Maiden’, langsung menduduki nomor satu di tangga lagu metal Inggris.
Dalam beberapa lineup awal Iron Maiden, Dave Murray bergabung dengan gitaris lain, tetapi untuk sebagian besar tahun 1977 dan seluruh tahun 1978. Murray adalah satu-satunya gitaris di band. Hal ini berubah dengan kedatangan Tony Parsons pada tahun 1979. Drummer Doug Sampson juga digantikan oleh Clive Burr yang dinamis. Pada bulan November 1979. band ini mendapatkan kontrak rekaman besar dengan menandatangani kontrak dengan EMI , sebuah kemitraan yang berlangsung selama hampir 15 tahun.
Sesaat sebelum masuk studio, Parsons digantikan oleh gitaris Dennis Stratton . Awalnya, band ini ingin merekrut teman masa kecil Dave Murray, Adrian Smith , tapi Smith sibuk menyanyi dan bermain gitar untuk bandnya Urchin . Iron Maiden dirilis pada tahun 1980 dan meraih kesuksesan kritis dan komersial. Band ini kemudian menjadi pembuka untuk Kiss pada tur Unmasked tahun 1980 mereka , serta membuka tanggal tertentu untuk Judas Priest yang legendaris. Setelah tur Kiss, Dennis Stratton dipecat dari band karena perbedaan kreatif dan pribadi. Akhirnya, waktu yang tepat untuk kedatangan Adrian Smith.
Smith membawakan suara melodi dan aneh ke Iron Maiden. Suaranya yang blues dan eksperimental merupakan kebalikan dari gaya Murray yang cepat dan secepat kilat. Salah satu ciri khas Iron Maiden adalah gaya gitar ganda ‘twin lead’ yang menyelaraskan gaya Murray dan Smith, gaya yang dipelopori oleh Wishbone Ash dan The Allman Brothers Band , tetapi dibawa ke tingkat yang benar-benar baru oleh Iron Maiden. Pada tahun 1981, Maiden merilis album kedua bertajuk Killers . Album baru ini berisi lagu-lagu hit pertama band dan diperkenalkan kepada penonton di Amerika Serikat.
Pada saat itulah band ini menjadi bintang atraksi New Wave of British Heavy Metal , di mana band-band asal Inggris membanjiri pasar Amerika Serikat. Killers tetap menjadi salah satu album band tercepat dan terberat, dan tetap menjadi favorit di kalangan penggemar berat. Sebagai sebuah grup, Maiden tidak pernah suka berpesta atau menggunakan narkoba, menjadi sangat perfeksionis baik di jalan maupun di studio. Namun, saat band ini mulai mencapai kesuksesan besar-besaran di Amerika, Paul Di’Anno menunjukkan perilaku yang semakin merusak, dan penampilannya mulai menurun. Pada tahun 1982 band ini menggantikan Di’Anno dengan mantan vokalis Samson Bruce Dickinson. Dickinson memberikan interpretasi yang lebih baik atas lagu-lagu mereka dan memiliki jangkauan vokal yang menakjubkan. Debut Dickinson dengan Iron Maiden adalah album tahun 1982 The Number of the Beast , yang diakui sebagai genre klasik heavy metal. Album ini sukses mendunia dengan menghadirkan lagu-lagu klasik seperti The Number of the Beast dan Run to the Hills.
Untuk pertama kalinya band ini melakukan tur dunia, mengunjungi Amerika Serikat , Jepang dan Australia. Namun, band ini dirusak oleh kontroversi yang datang dari kelompok agama yang mengklaim Iron Maiden adalah grup setan karena lirik gelap mereka yang konon berbicara tentang Setan. Sebenarnya, itu hanya satu lagu (‘The Number of the Beast’), sebuah lagu anti-Setan tentang mimpi buruk.
Band ini membantah rumor tersebut dan tidak ada album studio Iron Maiden sampai saat ini yang pernah memuat cap ‘lirik eksplisit’. (Namun, set kotak live ‘Eddie’s Archive’, seperti halnya single ‘Two Minutes To Midnight’) Setelah kesuksesan besar The Number of the Beast , band ini menjadi superstar dunia. Sebelum kembali ke studio pada tahun 1983, mereka menggantikan Clive Burr dengan drummer berat. Nicko McBrain dan kemudian merilis empat album yang meraih multi-platinum di seluruh dunia: Piece of Mind (1983), Powerslave (1984), Live After Death ( 1985) dan Suatu Tempat di Waktu (1986). Band ini mengumpulkan banyak penonton kemana pun mereka pergi, terutama di Amerika Selatan , Asia , Australia , dan Amerika Serikat , di mana mereka masih menarik banyak penonton dalam turnya. Semua album ini berisi riff yang kompleks, perubahan berkali-kali, dan tema berbasis klasik. Berbeda dengan banyak lagu sezamannya, Iron Maiden umumnya menghindari lagu-lagu tentang minuman keras, narkoba, seks, atau wanita. Lirik band ini kaya akan sastra Inggris (‘The Rime of the Ancient Mariner’) dan sejarah (‘Alexander the Great, 356-323 BC’). Musik band ini sering disebut sebagai ‘intelligent metal’, dan berada pada tingkat intelektual yang sama sekali berbeda dari kebanyakan band metal lainnya pada tahun 1980an . Pada tahun 1988 band ini mencoba pendekatan berbeda untuk album studio ketujuh mereka yang bertajuk Putra Ketujuh dari Putra Ketujuh. Ini adalah album konsep yang menampilkan cerita tentang seorang anak mitos yang memiliki kekuatan waskita berdasarkan buku The Seventh Son oleh Orson Scott Card. Itu adalah album Iron Maiden paling eksperimental hingga saat ini, dan sering dianggap sebagai puncak kreatif band dan akhir dari ‘tahun emas’ Maiden. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, band ini mengalami perubahan formasi dengan hilangnya gitaris/vokalis Adrian Smith.
Mantan gitaris Gillan Janick Gers dipilih untuk menggantikan Smith, dan pada tahun 1990 mereka merilis album yang mendapat sambutan buruk, No Prayer for the Dying. Album ini kembali ke gaya band yang berat tetapi liriknya lebih sederhana dan musiknya tidak sesulit upaya sebelumnya. Vokalis Bruce Dickinson juga mulai bereksperimen dengan gaya bernyanyi yang lebih serak yang tidak diterima dengan baik oleh penggemarnya. Namun, album ini sukses besar secara komersial dan menelurkan singel hit nomor satu ‘Bawa Putri Anda ke Pembantaian’ dari film horor A Nightmare on Elm Street 5 . Sebelum rilis No Prayer for the Dying , Bruce Dickinson resmi meluncurkan karir solo bertepatan dengan Iron Maiden (Gers adalah gitarisnya). Dia melanjutkan tur pada tahun 1991 sebelum kembali ke studio bersama Iron Maiden untuk lagu hit Fear of the Dark. Dirilis pada tahun 1992, lagu ini memiliki beberapa lagu yang populer di kalangan penggemar, seperti judul lagu dan Takut Menembak Orang Asing , sebuah lagu kritis tentang Perang Teluk Persia . Meskipun metal sudah ketinggalan jaman pada tahun 1992 dan grunge menguasai gelombang udara, Maiden terus menjual habis arena di AS dan di seluruh dunia. Tetap saja, Dickinson melanjutkan dengan vokalnya yang lebih serak dan sebagian besar lirik Takut pada Gelap merupakan penurunan peringkat dari kesuksesan mereka sebelumnya. Pada tahun 1993, Iron Maiden mengalami kerugian besar ketika Bruce Dickinson meninggalkan band untuk melanjutkan karir solonya.
Namun, Bruce setuju untuk tetap bersama band sampai akhir tahun, sehingga menghasilkan sepasang album live yang dirilis pada musim gugur. Band ini mengaudisi ratusan vokalis dan akhirnya memilih senjata muda Blaze Bayley pada tahun 1994, mantan anggota Wolfsbane. Bayley terbukti menjadi vokalis yang layak, tapi dia tidak memiliki jangkauan yang dimiliki Dickinson. Setelah jeda tiga tahun, Maiden kembali pada tahun 1995 dengan album berdurasi satu jam The X Factor. Secara luas dianggap sebagai album terburuk Maiden, kegagalan album ini tidak hanya disebabkan oleh Blaze Bayley. Kepala penulis lagu Steve Harris sedang mengalami masalah pribadi yang serius, dan banyak dari lagu-lagunya yang kelam, menyedihkan, dan lambat (album ini berisi empat lagu tentang perang). Namun ada beberapa hal yang menarik. Lagu antemik ‘Blood on the World’s Hands’ menampilkan karya bass akustik yang luar biasa dari Harris, dan ‘Sign of the Cross’ yang epik berdurasi 11 menit bersaing satu sama lain dengan karya klasik band mana pun. Band ini menghabiskan sebagian besar tahun 1996 di jalan sebelum kembali ke studio untuk Virtual XI (1998) yang jauh lebih baik. Penampilan vokal Bayley jauh melampaui penampilan X-Factor -nya , terutama pada ‘The Educated Fool dan balada reflektif ‘Como Estas Amigos. Anehnya, satu-satunya titik terendah dari album ini adalah singel hit ‘Malaikat dan Penjudi’, yang membuat banyak orang mendengar tentang album tersebut, sehingga memutuskan untuk tidak membelinya: Virtual XI bukanlah album dengan penjualan tinggi. Pada awal 1999, Bayley dikeluarkan dari band. Beberapa bulan kemudian, band ini mengejutkan dunia ketika mereka mengumumkan bahwa Bruce Dickinson dan gitaris Adrian Smith bergabung kembali dengan band, yang berarti lineup klasik tahun 1980an kembali ke tempatnya. Yang lebih menarik lagi adalah pengumuman bahwa pengganti Smith, Janick Gers, akan tetap berada di band.
Iron Maiden kini memiliki tiga gitaris. Hal ini menyebabkan tur reuni yang mengumpulkan banyak penonton di seluruh dunia. Pada tahun 2000, periode baru, yang umumnya dikenal sebagai ‘tahun progresif’, dimulai untuk band ketika mereka merilis album Brave New World. Lagu-lagunya lebih panjang dan liriknya berbicara tentang tema gelap dan kritik sosial. Band ini memperoleh basis penggemar baru ketika mereka mulai mengeksplorasi genre metal progresif. Brave New World , dalam hampir semua hal, adalah album Iron Maiden terbaik dalam lebih dari satu dekade. Tur dunia untuk album ini berakhir pada Januari 2001 dengan pertunjukan di festival Rock in Rio yang terkenal. Ini adalah kembalinya kejayaan bagi band ini, karena banyak dari penggemar lama mereka sekarang memiliki band sendiri, dan pengaruh mereka dapat didengar melalui beberapa bentuk musik rock di akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an. Band ini melanjutkan tren progresif mereka dalam album Dance of Death yang dirilis pada tahun 2003. Album ini meraih platinum di beberapa negara dan tidak diragukan lagi bahwa band ini masih menjadi sensasi heavy metal.
Faktanya, banyak penggemar yang mengatakan bahwa Dance of Death melampaui Brave New World dalam hal kreativitas, dan tetap menjadi album terbaik mereka sejak Seventh Son of a Seventh Son yang terkenal pada tahun 1988 . Pada tahun 2005 , Iron Maiden telah mengumumkan tur untuk tahun mendatang untuk memperingati 25 tahun perilisan album pertama mereka dan 30 tahun pembentukan mereka. Band ini berencana untuk mulai mendukung DVD baru berjudul The Early Years , di mana band ini akan merayakan musik dari periode 1975-1985.***
Jakarta, absolutmetal.com — Band heavy metal asal Inggris, Black Sabbath dalam waktu dekat akan merilis ulang album ke-6 mereka, Sabotage. Rilisan terbaru akan dilengkapi sejumlah lagu tambahan.
Edisi khusus dari album yang mulanya dirilis tahun 1975 tersebut rencananya akan diluncurkan 11 Juni mendatang. Selain rekaman asli, album tersebut menampilkan rekaman live Black Sabbath saat menggelar tur di Amerika Serikat tahun 1975.
Dari 16 lagu live yang akan dihadirkan, 13 di antaranya belum pernah dirilis dan disimpan sejak 46 tahun yang lalu. Album yang akan dirilis secara fisik ini juga akan menghadirkan potret-potret lawas band Ozzy Ousbourne tersebut.
Dilansir dari Ultimate Classic Rock, rilisan terbatas ini terdiri dari 4 CD, yang berisi Original Album Remastered, North American Tour Live ’75, North American Tour Live ’75 (part 2), dan North American Tour Live ’75 (part 3).
Album tersebut akan menghadirkan lagu-lagu legendaris Black Sabbath, di antaranya Hole in the Sky, Megalomania, dan Am I Going Insane. Pada album ini, anggota Black Sabbath terdiri dari Ozzy Osbourne (vokal), Tony Iommi (gitar), Geezer Butler (bassa), dan Bill Ward (drum).
Aktif sejak 1968, band ini telah lahirkan 19 album rekaman. Pada tahun 2013 mereka merilis album terakhir mereka berjudul 13, sebelum memutuskan berhenti atau bubar 2017 silam.
Di sebuah kesempatan, salah satu personel Black Sabbath Tony Iommi sempat menyatakan Black Sabbath punya wacana untuk reuni pada tahun 2022 mendatang. Namun, Ozzy menyebut ia tak akan turut serta.
Baru-baru band rock alternative asal Amerika Serikat, Hoobastank, kembali diperbincangkan dan masuk ke dalam salah satu list grup musik dengan nama paling buruk oleh The Manual.
Tak hanya Hoobastank, dalam daftar yang dibuat oleh The Manual itu pun terdapat band-band lain macam Diarrhea Planet, Lynyrd Skynyrd, hingga Audioslave dan Pitbull.
Hoobastank bahkan sudah pernah masuk ke dalam daftar nama band paling konyol yang dibuat oleh portal berita musik ternama, Rolling Stone, pada 2013 lalu. Nama Hoobastank disebut terlalu konyol, bahkan menjijikan.
Fakta bahwa Hoobastank kerap membuat inovasi pada namanya seperti menjadi h∞bastank atau Hoobustank pun disebut tidak terlalu membantu membuat nama band mereka terdengar lebih bagus.
Ketika diwawancarai oleh Launch Yahoo, Doug Robb sekaligus frontman dari Hoobastank menjelaskan tentang latar belakang nama band mereka. Meski kerap disebut sebagai band dengan nama buruk, Robb menyebut Hoobastank merupakan nama yang keren untuk sebuah band.
“Jika kamu bertanya padaku tentang arti dari nama Hoobastank, itu tidak memiliki arti apapun. Dan aku pikir nama ini sangat keren, ini merupakan salah satu bentuk candaan saat sekolah dulu dan sama sekali tidak memiliki arti,” ujarnya.
Sementara itu, Chris Hesse yang merupakan bassist awal band ini menjelaskan kepada Orlando Florida Guide asal usul mereka memberi nama band seperti itu. Menurutnya, ide nama ini muncul dari sebuha nama jalan di Jerman.
“Saudara Doug adalah wakil presiden BMW Motorcycles dan tinggal di Jerman. Ada jalan di dekat rumahnya yang disebut Jalan Hooba atau semacamnya dan sebelum Doug bisa menyebutkan nama jalan itu dengan benar dia menyebutnya dengan Hoobastank,” kenang Hesse.
“Hal itu agak lucu dan saudaranya itu terus meledeknya sampai sekarang. Saat kami mencari nama band, hampir tidak mungkin menemukan nama band yang belum pernah dipakai. Apapun yang terdengar tampak normal sudah pernah dipakai. Saya tidak ingat bagaimana nama itu muncul, tetapi seseorang mengatakannya dan kami semua langsung setuju,” ujarnya.
“Setelah Anda mengingat nama bandnya, Anda benar, Anda tidak akan pernah bisa melupakannya,” tutur Hesse.
Karya dan Karier Hoobastank Tak Seburuk Namanya
Terlepas dari kritik yang mengalir soal nama bandnya, Hoobastank punya karier yang cukup gemilang di industri musik global. Hoobastank sendiri terbentuk pada 1994 di Agoura Hills, California, Amerika Serikat.
Hoobastank ada karena dimulai dari persaingan Doug Robb dan Dan Estrin di kompetisi band sekolah mereka. Lantas mereka memutuskan untuk bergabung dan membentuk band, kemudian mereka merekrut Markku Lappalainen dan Chris Hesse.
Hoobastank memulai perjalanan mereka dengan bermain di berbagai gigs di Cobalt Cafe, yang saat itu ternyata juga menampilkan Incubus (band rock Amerika Serikat). Sekian waktu berjalan, Hoobastank akhirnya merilis album pertama pada 1998 dengan nama They Sure Don’t Make Basketball Shorts Like They Used To.
Di album ini, aliran musik mereka belum sekeras yang nantinya dikenal sebagai identitas Hoobastank. Di album pertamanya, band ini memasukkan unsur saxophone dari Jeremy Wasser.
Pada proses pembuatan album kedua mereka, Hoobastank mulai mengubah aliran musik dengan menanggalkan suara saxophone Jeremy Wasser. Akhirnya, mereka merilis album kedua dengan nama band mereka ‘Hoobastank’ pada November 2001.
Keputusan untuk tidak menggunakan saxophone lagi di musik mereka membuat karya Hoobastank menjadi lebih dikenal. Lagu Crawling in the Dark yang menjadi line-up pertama dari album kedua mereka muncul sebagi hit dan menempati posisi 68 di Billboard Hot 100, nomor 3 di chart Modern Rock, dan nomor 7 di chart Mainstream Rock.
Single kedua mereka di album ini, Running Away, bahkan menuai kesuksesan lebih dengan menduduki posisi 44 di Billboard Hot 100, dan nomor 2 di Modern Rock chart. Karya-karya ini membawa mereka melakukan tur di Eropa dan Asia hingga mengisi soundtrack dari sebuah film ternama di masanya, The Scorpion King.
Kesuksesan kembali hadir ketika Hoobastank merilis album ketiga bertajuk The Reason pada Desember 2003. Ketika lagu dengan judul sama seperti album mereka rilis pada pertengahan 2004, The Reason langsung menjadi hit dengan menempati posisi kedua di Billboard Hot 100 dan memuncaki US and World Modern Rock chart.
The Reason adalah gerbang lain yang membawa Hoobastank dikenal luas di industri musik dunia. Mereka semakin dikenal setelah menjadi bagian dalam tur Linkin Park Meteora pada awal 2004.
Namun, The Reason juga seolah menjadi titik di mana Hoobastank mulai memudar. Karya-karya mereka selanjutnya tak ada yang bisa mengalahkan ketenaran dari album dan lagu The Reason.
Meski begitu, mereka tetap konsisten berkarya dengan melahirkan sejumlah album baru seperti Every Man for Himself (2006), Fornever (2009), Fight or Flight (2012). Nah, sejak album Fight of Flight ini, Hoobastank absen cukup lama menghasilkan karya baru.
Baru di Maret 2018 atau hampir enam tahun lamanya Hoobastank merilis album baru atau album studio ketujuh mereka dengan tajuk Push Pull. Memang album ini tidak segempar ketika mereka merilis album The Reason, namun ini menjadi pembuktian bahwa musik dan karier Hoobastank tidak seburuk nama band mereka yang sering dikatakan publik.
Saat ini Hoobastank beranggotakan Doug Robb sebagai vokalis, Dan Estrin di posisi gitar, Chris Hesse sebagai drummer, dan Jesse Charland sebagai bassist.
Formasi band Aerosmith beberapa kali mengalami perubahan. Gitaris Joe Perry sempat memutuskan keluar pada tahun 1979.
Reaksi vokalis Aerosmith Steven Tyler, saat mengibur penggemarnya dalam konser turnya yang berjududl “Aerosmith: Let Rock Rule” di The Forum, Inglewood, California (31/7).
Absolutmetal.com, Jakarta -Tanggal 21 Juni merupakan hari lahir dari drummer Aerosmith Joey Kramer. Joy Kramer aktif menjadi personil Aerosmith sejak dibentuk pada 1970. Ia merupakan orang yang menggagas nama Aerosmith pada 1973.
Melansir Allmusic.com, Aerosmith merupakan grup rock asal Amerika Serikat yang terkenal sebagai salah satu band rock and roll terbesar di Amerika pada tahun 70-an. Pembentukan band Aerosmith bermula ketika Steven Tyler bertemu Joe Perry saat bekerja bersama di kedai es krim Sunapee, New Hampshire pada 1970.
Mereka kemudian mengajak Tom Hamilton untuk mengisi posisi bassist serta Ray Tabano untuk menjadi gitaris kedua. Ray sendiri tak lama akhirnya digantikan oleh Brad Whitford, mantan personil band Earth Inc. Joey Kramer menjadi anggota terakhir yang direkrut mengisi posisi drummer.
Band yang awalnya berbasis di Boston ini terkenal dengan musik mereka yang menggabungkan genre blues, pop rock dan heavy metal.
Pada tahun 1972, Aerosmith akhirnya menekan kontrak perdananya dengan perusahaan rekaman Columbia Records setelah sebelumnya hanya tampil dari klub ke klub di wilayah Massachusetts dan New York selama dua tahun. Debut album mereka diberi judul sama seperti nama band mereka ‘Aerosmith‘ dirilis tahun 1973 dengan lagu ‘Dream On’ sebagai single pertamanya. Rilis album ini diikuti oleh tur Amerika pada tahun berikutnya. Setahun berikutnya mereka kembali merilis album kedua bertajuk ‘Get Your Wings’.
Pita Suara Steven Tyler Rusak Aerosmith Tunda Konser Perpisahan Hingga 2024
Mengenal Steven Tyler Vokalis Aerosmith Berjuluk Demon of Screamin
Mengutip dari Britannica, album ketiga mereka Toys In The Attic dirilis tahun 1975. Album ini bisa dibilang salah satu yang meroketkan nama mereka dan memperoleh pencapaian baik dari sisi komersial maupun artistik.
Lagu Sweet Emotion pada album ini sukses menembus Top chart 40 pada musim panas tahun 1975, dengan album ‘Toys In The Attic’ yang mencapai peringkat 11. Album baru mereka selanjutnya ‘Rocks’ yang dirilis tahun 1976 bahkan mampu menyabet Platinum. Nama Aerosmith semakin naik daun ketika album mereka selanjutnya ‘Draw the Line’ mampu menduduki tangga kesebelas di Amerika.
Formasi band Aerosmith beberapa kali mengalami perubahan. Gitaris Joe Perry sempat memutuskan keluar pada tahun 1979 dan membentuk Joe Perry Project. Gitaris lainnya Brad Whitford juga memutuskan keluar pada tahun 1980 untuk kemudian membentuk band Whitsford-St. Holmes. Kedua posisi yang ditinggalkan tersebut kemudian Jimmy Crespo dan Rick Duffay.
Mengenal Gitaris Aerosmith Brad Whitford
Aerosmith Pamit: Tur Perpisahan Dibatalkan karena Steven Tyler Tak Bisa Pulih dari Cedera Suara
Aerosmith dalam perjalanannya sempat mengalami sejumlah masalah, terutama terkait obat-obatan. Vokalis Tyler misalnya yang ambruk di atas panggung dalam acara tur ‘Back in the Saddle’. Ia dan Perry bahkan sempat menjalani rehabilitasi untuk menyembuhkan kecanduan mereka terhadap obat-obatan.
Grup ini mencapai puncak popularitasnya di awal 90-an ketika menandatangani kontrak bernilai jutaan dolar Amerika Serikat dengan Columbia Records. Tak sampai tahun 1995, mereka telah dapat memulai rekaman pertamanya bersama label barunya, hampir 5 tahun sejak penandatanganan kontrak tersebut. Album Nine Lives mereka garap bekerjasama dengan Kevin Shirley pada tahun 1996.
Aerosmith masih eksis hingga 2022 ini dan sempat akan mengadakan konser residensi musim panas yang dijadwalkan berlangsung di Park MGM’s Dolby Live, Las Vegas pada 17 Juni hingga 11 September meskipun dibatalkan karena vokalis Steven Tyler masuk Rehabilitasi.
Jakarta – Grup musik Seurieus mencuri perhatian awal 2000-an lewat lagu ‘Rocker Juga Manusia‘. Vokalis mereka, Candil, menjadi salah satu magnet utamanya.
Namun, perjalanan Candil bersama Seurieus berakhir pada 2008. Mereka berpisah jalan dan keduanya pun perlahan tenggelam dari peredaran. Pertanyaan besar muncul, apa yang membuat hubungan mutualisme itu berhenti di tengah jalan? Padahal saat itu Seurieus sudah punya cukup pamor.
Kepada detikHOT, beberapa waktu lalu, Candil membagi apa yang terjadi di balik kejadian delapan tahun lalu.
“Ya klasik banget, dinamika bermain band. Mulai dari star syndrome dan problem-problem lain. Pola pikir berubah, pandangan tentang bermain musik dan musik itu sendiri berubah. Akhirnya ada satu waktu kita sama-sama sadar sudah tidak satu visi,” cerita musisi bernama asli Dian Dipa Chandra itu.
Sayangnya, karena sudah telanjur membekas, nama Seurieus menempel terus di Candil. Begitu pula sebaliknya hingga hari ini.
“Gue terganggu sih nggak karena memang gue besarnya sama mereka. Gue juga nggak mengkhawatirkan itu karena waktu gue keluar, mereka yang berubah konsep. Jadi nggak bermasalah,” jelasnya.
Untungnya, sekarang hubungan Candil dengan para personel Seurieus seperti Koko, Hayam, Mulek dan Deenar sudah adem-ayem.
“Sekarang seiring waktu ya sudah enjoy masing-masing lah. Main sama-sama lagi. Kalau sempat, jamming lagi,” pungkasnya.
Saat ini Candil melangkah sendiri bersama dengan grup bentukannya, Candil in The Rockalisasi. Grup yang berisi empat personel pengiringnya saat beraksi. Candil in The Rockalisasi pun telah merilis album bertajuk ‘Rockalisasi.
JAKARTA – Sejarah terbentuknya band Noah menarik untuk dibahas. Pecinta musik Tanah Air tentu sudah akrab dengan band Noah dengan Ariel sebagai pentolan sekaligus vokalis yang fenomenal.
Bisa dikatakan jika Noah merupakan salah satu band legendaris Indonesia. Meski demikian, masih banyak yang belum mengetahui mengenai sejarah band Noah dan keterkaitannya dengan band Peterpan.
Asal-usul dan sejarah terbentuknya band Noah tidak bisa dilepaskan dari band Peterpan. Ariel Noah dalam kanal Youtube Helmy Yahya Bicara yang tayang pada 15 September 2020 menceritakan sejarah bandnya.
Jika ditarik mundur, Noah lahir dari band Peterpan yang berdiri pada 2000. Adalah Andika yang pada awalnya bermimpi ingin memiliki band yang main di kafe. Kala itu, Peterpan beranggotakan enam orang, yakni Ariel, Andika, Indra, Lukman, Reza, dan Uki.
Nama Peterpan sendiri didapatkan secara tidak sengaja. Boris, julukan Ariel, mengisahkan jika pada saat itu Andika dan ibunya tengah berada di Puncak, Bogor. Di sana Andika melihat ada warung sate kelinci bernama Peterpan.
Setelah itu Andika bertemu dengan Ariel cs yang tengah mempersiapkan audisi untuk menjadi home band di cafe. Andika pun mengusulkan untuk menggunakan nama Peterpan sebagai nama band. Ariel cs yang tengah pusing mempersiapkan audisi pun tanpa pikir panjang langsung menyetujuinya.
Singkatnya, karena penampilan yang apik Peterpan akhirnya mendapat kontrak dari label rekaman dan berhasil mengeluarkan album bertajuk Kisah 2002 Malam (2002), Taman Langit (2003), Bintang di Surga (2004), dan Alexandria (2005).
Pada 2006 terjadi perpecahan dalam tubuh Peterpan di mana Andika dan Indra memutuskan untuk keluar. Andika pun merasa keberatan jika Ariel cs masih manggung dengan band bernama Peterpan.
Alhasil, nama Peterpan pun berubah menjadi Noah pada 2012. Sebelum berubah menjadi Noah, Ariel cs sempat mengeluarkan album Hari yang Cerah… (2007) untuk terakhir kalinya menggunakan nama Peterpan.
Saat memilih nama band baru, Ariel cs rupanya cukup serius. Ia dan kawan-kawannya bahkan mengusulkan sepuluh nama per personel untuk mendapatkan nama yang sesuai. Beberapa calon namanya adalah Masterplan, Tanaris, dan terakhir Noah.
Pada akhirnya Noah menjadi nama yang terpilih untuk menggantikan Peterpan. Alasan pemilihan nama Noah pun cukup unik. Pada awalnya mereka tidak tahu apa arti Noah. Setelah dicari tahu Noah berarti “Memberi Kenyamanan”.
“Artinya dicari tahu kemudian, pas diperdebatkan kenapa Noah gitu kita cari artinya apa artinya Noah? ooh.. ngasih kenyamanan. Kita hubung-hubungin, ngasih kenyamanan di telinga, oh pas nih yaudah ini aja deh.” terang Ariel.
Kini band Noah beranggotakan Ariel, Lukman, dan David. Demikian pembahasan mengenai sejarah Terbentuknya Band Noah.